At bottom every man knows well enough that he/she is a unique being, only once on this earth -Nietzsche-

Sunday, January 30, 2011

Lekker



Minggu pagi di Simpanglima. Nyari apa?? kita beli lekker, dan motoin plus ngerecokin si bapak penjual lekker mwuahahahha... lekker ini murmer, yang isi roti tawar, ada selai stroberinya dihargai 2000, yang isi pisang, coklat, keju lengkap harganya 1000, dan kalo mau yang krispy cuman diisi misis, gula n susu coklat lebih murah lagi, cuman 500 perakkk .. yum..yum.. :D

Lekker sendiri asalnya dari bahasa Belanda yang artinya ennakkk, delicious. Soal knapa kue ini dinamai lekker, entahlah, dari negeri Belanda sendiri mungkin ada makanan sejenis crepes ini tapi pastinya bukan bernama lekker. Well, bisa jadi pas kue ini dibikin trus dicobain rasanya enak banged, lalu tiba-tiba ada meneer Belanda yang nyicipin dan tereak lekkeeerrrr .. jadilah dinamain lekker, mwuhahahhaa ini mengarang bebas, ga termuat dalam wikipedia :P

Selain minggu pagi di area simpanglima, para penjual lekker biasanya nongkrong didepan sekolah-sekolah ato kadang ada di samping mall matahari. Di Solo, ada beberapa penjual lekker di sekitaran jalan Slamet Riyadi. Bedanya, kalo lekker di semarang cenderung berbentuk kecil, seukuran diameter wajan 20cm, di Solo kue lekker lebih besar 2x lipat, jadi kalo ga langsung dimakan kadang-kadang udah ga krispy lagi.





Saturday, January 22, 2011

[Nekad Traveller] Semarang-Jogja


Kenapa dibilang nekad traveller? well, karna selama muter-muter Semarang n Jogja pas tahun baru kmaren, dua temen saya Meimei n Acri make wedges yang tingginya ga kurang dari 10cm, sedangkan acara kita adalah jalan-jalan dari ujung ke ujung, dari trotoar ke trotoar, dari sudut ke sudut, lalu nunggu angkot yang so damn luammaa, naik turun becak, sampe akhirnya Meimei cranky, manyun trus daripada snewen akhirnya kita nyerah n milih naik taxi mwuhahah. Gagal sudah rencana jadi on-a tight-budget backpackers karna kemana-mana jadinya bertaxi. Laen kali pake sendal jepit aja ya, kayak saya :D

I'm not gonna tell the 'liburan' story. Cukup gambar-gambar saja :D karna saya pikir smua orang pasti merasakan hal yang sama saat liburan. Muter sana sini, having fun, makan-makan, ngobrol dan ngobrol dan ngobrol, n in the end bokek :X:X

Tapi ga kapok yaaa *EVIL GRIN ...

*Hari pertama di Semarang, 2 teman saya pengen makan sesuatu yang ga ada di kota mereka, Jakarta n Surabaya. So, forget smua tentang KFC, Mc Di, Hokben, Solaria n mall foodcourt. Karna waktu itu posisi kita ada di simpanglima n harus makan nasi, saya ajak mreka makan di Lombok Idjo, resto yang nyediain ayam goreng dll dengan signaturnya -ya pastilah- sambel lombok ijo :D mmmm, sop buntut mereka juga not bad. Tapi kalo urusan ayam n bebek sbenernya saya lebih pilih temennya Lombok Idjo, yaitu Super Penyet which is sama-sama ada di Jl.Gajahmada Semarang.



*Ke Pandanaran pusat oleh-oleh, turis bangeddd :D ya secara mereka emang turis asing. Lalu kita langsung ke Bandeng Juwana which is super crowded, sampe ngantre-ngantre. Saya biarkan mreka milih-milih kue moci n yang laennya. Entah jadi beli apa ga.. lalu langsung cabut naek becak ke arah Tugu Muda



- Lawang sewu. Ini kunjungan ke dua saya. Tapi saat itu lagi rame banged yang dateng n pengelolaan soal pengunjung yang sangat amburadul, plus para guide yang kliatan 'maksa' supaya kita mau digaedin dengan alasan ga tau arah n angker [lah kita kan emang dateng mo daftar jadi penampakan mwuhahah].

Disana kita hanya biasalah, poto-poto sambil berharap ada yang 'ngikut' dalam kamera lalu kita apload di internet n jadi tenar kita di TV *ngareppp .. oya, jumlah pintu disana itu beneran seribu ga ya? berharap ada yang -sukarela- menghitung.

Yang paling saya sukai dari lawang sewu adalah bagian utama bangunan stelah pintu utama. Ada stained glass yang indah banged, dome-shaped roof, trus great stairways which is ngingetin sama keindahan arsitektur Gothic n Baroque, klasik n shopisticated.

And overall, kalo bangunan ini dikelola dan dikembangkan dengan baik dan jujur *hay pemkot, pasti makin bagus tanpa harus meninggalkan kesan kuno dan elegannya karna lawang sewu ini sumpahh, bagusss banged [kalo terawat]. Dijadikan hotel mungkin ya, tapi wondering siapa yang mo nginep, pasti pada having nightmare semua tiap malem huahuahua.. ato dijadikan mall, mungkin cocok, Lawang Sewu Grand Mall huhahaha... isinya barang-barang keperluan hallowe'en :D






*Di Jogja. Soal ke House of Raminten udah saya tulis di postingan ini ya. Dan gimana kita sampe ke tempet pembuatan bakpia 25. Sempet masuk ke dapurnya, ngeliat gimana mreka bikin bakpia. Saya cuma bisa bilang WOW!! mreka cekatan banged masukin adonan isi yang terbuat dari kacang ijo itu ke kulit bakpia lalu dilipet n jadi, cepet banged. And mereka yang bagian lipat melipat itu semua cowok whihihi..ini bukti kalo cowok lebih rapi kali ya mwuhehheheh. Trus bakpia mreka ennnakkk, apalagi kalo masih anget-anget *ngilerrr.


*Ke kraton, n unfortunately saat itu lagi tertutup untuk umum karna abis ada acara. Lalu tukang becak nawarin ke tamansari, tapi malas udah ksorean. Finally foto-foto aja sekenanya dengan background apa adanya :D ..

Saya tidak tertarik soal wisata merapi. Well, mungkin lebih tepat kalo memang tujuan kita bener-bener mau care sama korbannya yahh, ato at least ada teman kita disana yang juga menjadi korban. Kalo ksana cuma buat 'wisata merapi' hummm.. gausya deh :D kita udah cukup ngeliat kali putih di area Magelang selama perjalanan menuju Jogja, waktu itu sebelum terjadi banjir lahar dingin seperti skarang. Pray for them all.



Friday, January 21, 2011

What the choco oracle says about Me :D






The Chocolate Oracle Says You're Classy



You are sophisticated, modern, and high class.
Your taste is refined, but you are not picky.
You are often the first to try something new.
You are mellow, spiritual, and philosophical.

You are a true humanitarian. You enjoy helping people.
Your heart can be too open at times. You sometimes over-extend yourself.
You love to be in love. You crave romance, whether you're single or not.
You feel lost when you don't feel passion... you need someone to adore.



Sunday, January 16, 2011

Follow Your Heart


Life is Lesson Learned

Thirteen years ago, former H&R Block CEO Tom Bloch audited his life and found something was missing. His decision to become a school teacher granted him the ultimate return.
By Justin Petruccelli

It would be hard for most people to imagine what could possibly have been missing from Tom Bloch's life back in 1995. He had a great job as a CEO and a seven-figure salary to match. He had a wife and two sons. And that CEO job? Well, he took over the family business from his father, who, 40 years earlier, tweaked the spelling of the family name so people would pronounce it correctly. Then he did their taxes, under the name H&R Block.

But despite how great his life might have looked on paper, Bloch wasn't happy. His wife worried he wouldn't make it to 50. So Bloch left it all behind to become a math teacher in inner-city Kansas City. In 2000, he opened University Academy, a tuition-free charter school. His new book, "Stand for the Best," describes what he learned from the experience. He shares what aspiring business owners can learn from it as well.

Entrepreneur.com: A lot of entrepreneurs wrestle with the idea of giving up established careers to strike out on their own. Having dealt with this in your own experience, what advice would you give them?

Tom Bloch: Someone once said, "Someday your whole life will flash before your eyes. Make sure it's worth watching." I began to think about that quote and I realized we all have one life and we've got to make sure we use it in such a way that it's a happy life and a useful life. I read somewhere that about half of all people don't really like their jobs. And I thought, "What a waste of a life that is to get up every morning and do something that you really don't like." I felt something was missing from my life, even as a CEO making plenty of money, so I began to figure out what my real passion is and I decided to follow my heart. There was less of a risk for me because I could walk away from a lucrative position to become a teacher and not have to sacrifice my lifestyle. But I know for many folks it's a risky proposition to think, "I've got a comfortable, secure position. I've got a steady income." And to give that up for something that's uncertain, that can be scary. I understand that. But there's always that risk in not doing it--that someday you may regret having not followed your heart. I feel like it's never too late to make that decision. But it does take courage. It does involve risk. But I do think it's important to do your homework first before making a significant life change.

Entrepreneur.com
: You say in your book that it's never too late for someone to find his or her calling. How does this relate to an entrepreneur looking to start a business?

Bloch: So many people take advantage of their life experiences. There's almost an advantage in some respects to waiting until mid-life to make a significant career change because often times, the experience you had in your previous career can be utilized and can benefit the next chapter in one's life. There's plenty of examples out there. My wife thought I was going through a mid-life crisis and that's why I was thinking about making a big change, but I really feel it was deeper than that, more fundamental. I know people much older than me who have made significant career changes and they actually worked out quite well. I would just encourage people to not settle for anything less than what they really want out of life because you might be able to achieve it.

Entrepreneur.com: University Academy seems to have a strong element of social entrepreneurship. Talk about how you apply the double bottom line in your new career.

Bloch: The guy I started University Academy with said, "Who has the nerve to start an inner-city school? It's not a growing business. It's a business that's been in crisis for decades. Why would anybody in their right mind do that?" But the rewards can be so tremendous by doing something where the benefits are beyond one's self. That's what I found to be really the greatest reward as a teacher--to connect with students, to make a difference in their lives and to find out years later that the impact was significant in a positive way. We've had five graduating classes now, and all but two students have gone on to college. I often wonder how many of those kids would've graduated from high school. How many would've ever gone to college? It's really a great reward. At the end of my first year of teaching, one of my students gave me a little ceramic apple that said "Greatest Teacher" on it. I took it home to my wife and told her, "I got my bonus today." She looked at me as if I were crazy. I explained to her that this little gift from a student meant more to me than some of those bonus checks I got at H&R Block that had several zeroes on them.

-------


Artikel diatas saya copy dari Entrepreneur karna bagi saya sangat-sangat inspiring. Well, seorang CEO yang kita pasti sangat paham dengan salary-nya yang ga sedikit, tapi rela melepas jabatannya demi menjadi seorang guru, sebuah hal yang sangat-sangat diimpikannya. Memang, sebuah passion atau keinginan untuk melakukan hal-hal yang sangat kita cintai bukanlah melulu soal uang. Ini mengenai hal dimana saat kita melakukan sesuatu itu, kita merasa nyaman, merasa bahagia, dan yang terpenting, kita merasa bahwa apa yang kita lakukan sangatlah berarti dalam hidup ini. Ya, sebuah perasaan dari dalam hati yang ga akan pernah bisa terbeli dengan uang..rite?

Saya merasa sangat beruntung ga pernah merasakan keterpaksaan dalam melakukan sesuatu. Selama ini saya menyukai apa yang saya lakukan, yaitu berbisnis. Meski jalannya ga mudah, dimana saya harus mengerjakan segala sesuatu sendiri, dengan pengalaman yang masih minim, jatuh bangun, untung rugi, juga kadang sangat lelah n boring. Terkadang, I envy those who work at office, yang menerima gaji setiap bulan, sehari-harinya berpakean rapi, apalagi dilengkapi dengan blazer, yang menurut saya, terlihat classy dan cantik. Lalu saya bandingkan ketika saya pengen banged berbisnis di bidang per-kue-an, pasti hari-hari saya hanya berselimut apron dan rekan saya adalah mixer dan oven :D

But, again..prinsip untuk tidak bekerja dan digaji orang lain membuang semua rasa iri saya pada para pekerja kantoran. Somehow I feel gifted that I know what I really want with my life. Saya selalu berkeinginan untuk bisa terus berbisnis serta bisa menghasilkan uang dengan melakukan apa yang saya sukai, dimanapun saya akan berada, dengan siapapun saya nanti akan menikah, dan tanpa melupakan peran saya sebagai seorang Ibu rumah tangga. Well, saya selalu menyebut ini sebagai sebuah impian yang sangat cute, hahahha!! God, do hear my pray..!

Owhya, saya juga suka banged web lenterajiwa, hope You like it, too .. n follow your heart :)

Friday, January 14, 2011

Angels Cry


Lagi seneng banged sama lagu ini. Mungkin karna sama kayak suasana hati, mungkin, hmmm...ato memang iya, ahhhh..masi mungkin...tapi, iya sihhh.... iyya appaaa siii mwuhehehe *lagi ga jelassss .. :P

Well, let everything go..., time will tell all, eventually. I'm happy now, and will always be. Muahhhh..

"Lightning don't strike
The same place twice
When you and I said goodbye
I felt the angels cry
True love is a gift
But we let it slip
In a storm
Every night
I feel the angels cry"


Monday, January 10, 2011

You and I


A moment of happiness,
You and I sitting on the verandah,
apparently two, but one in soul, You and I.

We feel the flowing water of life here,
You and I, with the garden's beauty
and the birds singing.

The stars will be watching us,
and we will show them
what it is to be a thin crescent moon.

You and I unselfed, will be together,
indifferent to idle speculation, You and I.

The parrots of heaven will be cracking sugar
as we laugh together, You and I.

In one form upon this earth,
and in another form in a timeless sweet land.

Mevlana Rumi

Friday, January 07, 2011

Kami, Tukang Becak dan House of Raminten!



Di Jogja, mungkin sudah takdir kalo tukang becak itu diciptain buat pandai ngerayu. Ato, memang kondisi yang mengharuskan mreka kudu pinter ngambil ati si penumpang biar awet n ayuh aja dibawa kemana-mana.

Seperti kami yang -meski sudah sering kejogja- masih aja buta lokasi, ga ada jalan lain kadang selain mengIYAkan apa kata tukang becak.

Pas otw, bisa dipastiin tukang becak bakalan ramah bener nanyain kita darimana, liburan brapa hari, nginep dimana, mau kesini, ksitu, ksono, diliatin ini, itu, dengan harapan kita mau ngikutin apa kata dia.

Kayak malem itu stelah pulang dari Pakualaman, kita brencana menuju Brigjen Katamso .. dan ditengah perjalanan kita pun terkena rayuan gombal si tukangbecak;

TB : mbak, ndak pengen mampir beli bakpia? ke tempet proses pembuatannya, nanti masi anget lho mba, bisa liat2 cara bikinnya juga..
Kami : ohh well ga ada salahnya sihh pikir kita, secara belom pernah juga .. yasuda pak, kita ksonoohhh..jauh ga??
TB : ga mba..dekkeeett, cuman ksitu..

Udah muter-muter, macettt gila!! selang beberapa menit!!

Kami : pak, katanya deket, ko ga sampe-sampe
TB : bentar mbak, tu depan tinggal belokan satu lagi

Setelah beberapa belokan...

Kami : paaaaaak, katanya tinggal satu belokan, masi jauh gakkk!!!!
TB : ndak mba, itu depan tu dah kliatan ...
Kami : uffththththth si bapakkkk ^(*$^(^@*

Dan masi aja muter-muter ga nyampe-nyampe, hujan pula.. hell! Dalam perjalanan balik dari bakpia pun si bapak masi keukeuh melancarkan rayuan dengan bilang ke Dagadu mba, dekkeeet, ato ke pusatnya batik-batik, ndak jauh kok. Awwwhhhh tapi kita udah kapok dengan rayuan gombalmu.. for some reason, never trust TUKANG BECAKKK!!!

En well, di Jogja juga, tukang becak itu matre-matreeee *gerrammm. Seperti kejadian pas kita mo balik dari Keraton menuju Malioboro;

Kami : pak, ke Malioboro yakk, Mirota .. deket kan
TB : ya deket mba, tapi muter, kan jalannya searah, macet bla bla bla..

Okelah, dan deal!!

Kami : (pas liat ATM) .. eh pak..pak, mampir bentar ya mo ambil duit
TB : wah mba, kalo brenti nambah 2ribu
Kami : hlahhhhh, cuman brenti doank, bentar doank
TB : iya mba, tapi kan saya nunggu, berarti nambah 2ribu, tar kalo mo brenti lagi ya 2ribu lagi
Kami : *bersungut-sungut

Dan saat itu becak udah menepi, tapi -for God sake- karna persoalan nambah 2ribu dimana kita ngeyel ga mo kasih, akhirnya kita batal diturunin n becak lanjut jalan lagi dengan muka si tukang becak yang mendongkol ga karuan, mwuhahahahaha... *nasib dapet penumpang pelit.

Tapi, ada juga tukang becak yang pasrah. Pas menuju House of Raminten dari Malioboro yang kita pikir deket ternyata jauh bener, bahkan ada beberapa ruas jalan yang sedikit menanjak n melewati daerah kalicode (CMIIW) yang naek turun. Ini bikin guilty feeling (*hiks) secara diawalnya kita udah ngeyel-ngeyel, berasa mantap kalo jarak yang bakal ditempuh cuman ksitu-situ aja.

Si bapak ngayuhnya pelaannn banged, padahal kami berdua termasuk ringan :D mungkin karna banyak jalan yang menanjak. Sampe beberapa kali kita tanya knapa ga sampe-sampe. Masyaoloooh ternyata emang jauhhh ...

Akhirnya dengan ikhlas kita menambah ongkos buat si tukang becak itu. Maaaappp ... abis ini langsung cabut ke tukang pijit ya pak, ato olesin counterpain semaleman *GRIN

Sebelom ktemu bapak yang trakhir ini, sbnernya we were struggling nyari tukang becak yang -kita harap- tau keberadaan House of Raminten. Beberapa tukang becak kita tanyain n semua kompak bilang ga tau;

Kami : pak, ke House of Raminten, tau pak...??
TB : hossss, hosss apa mba?? tempet apa itu
Kami : kafe pak, tempet makan-makan getu dehhh, masa ga tau
TB : wahhh ndak tau saya mbak .. dimana tho??
Kami : forget it..!!

Kami : pak, ke area gondolayu, House of Raminten, tau pak..?
TB : raminten, apa itu tho mbak...
Kami : kafe itu lho pak ... tau pak??
TB : *geleng-geleng*

Finally sampailah kita di House of Raminten which is malem itu rame hingar bingar, penuh sesak dari lantai satu sampe lantei 2. kita langsung mnuju ke area pendopo tengah n disana udah ada temen yang nunggu.

Karna waktu itu crowded banged, jadi terkesan kurang cozy, ditambah pesenan makan yang ampun lammmmaaaa, sampe kita lupa dengan sukses tadi order apaan. Tapi soal lamanya pelayanan ini keknya ga bisa dikomplein secara di salah satu sudut dinding ada papan tulisan yang kira2 bunyinya begini : maaf jika anda harus menunggu lama karna kami semua disini adalah murid lulusan SLB. Nahhh, yasudahlah ... mungkin karna mbak-mbak waitress itu makenya kemben jadi dalam bergerak musti pelan-pelan biar ga melorot. Untung ada gending jawa yang setia menemani, for not saying bikin kita makin laper =(

Malem itu kita pesen nasi goreng, sate usus, kentang goreng, es teler, jus alpukat, kopi susu dll (lupa!!). Sbenernya ada banyak menu-menu unik dengan nama yang nyeleneh, disajikan dengan cara yang nyeleneh pula. Ada es kelapa muda yang disajikan dalam gelas mirip wine glass tapi dengan ukuran super jumbo, jadi bisa dibuat minum beberapa orang. Kalo habis sendiri? hebattt, asal ga kembung. Ada juga minuman yang gelasnya tinggi banged, mungkin lebih cocok disebut vas bunga daripada gelas minuman. Makanannya juga beragam mulai dari nasi kucing sampai makanan khas jawa lainnya kayak sego liwet, nasi goreng, gado-gado, bakso dll. Dan disini juga ada aneka jamu, bir jawa n aneka wedang semacam beras kencur n kunir asem. Soal harga, cheap n cheap .. murah meriah :D

House of Raminten ini terletak di sebelah Mirota Bakery. Well, kalo laen kali nyari mending bilang Mirota Bakery mungkin lebih familiar daripada Raminten hehehe. Ohya, kata temen saya, Raminten itu adalah nama dari seorang waria yang dijadikan ikon dari kafe ini. Kalo penasaran, kesana ajja ya .. =D

*gambarnya nge-blurr semua karna suasana remang-remang, dan hujan.