At bottom every man knows well enough that he/she is a unique being, only once on this earth -Nietzsche-

Thursday, February 17, 2011

Saya dan Ujian Matematika



Ibu2 : Mba, lesnya sekalian matematika bisa kan?? bisa yahh yahh ..
Me : ohhh duhhh ehhh mmmm .. gimana ya Bu, dulu pas ujian akhir sekolah, nilai math saya dapet 20, jadi dari seluruh soal yang bener cuma beberapa soal doank ..
Ibu2 : *melongo*

Saya mo ketawa dulu ya [mmwauhahahahaha] .. sebenernya kejadian pahit ini ga perlu diinget-inget lagi. Tapi gara-gara ada yang ngedaftar les pengennya sekalian diajarin matematika juga, akhirnya jadi keingetan. Mo ketawa lagi dulu ahh [muwahahhaha] .. oppo tohhh :D

So, pas SMU dulu saya paling benciiiiii bangeddddddddddd yang namanya matematika. Why?? karna saya ga bisa-bisa, beggoo banged, pokoknya otak ini rasanya ga kesampean buat mahamin rumus-rumus yang sumpahhh, enegg! Pas belajar matematika, makin dipelajari bukannya makin ngerti malah yang ada makin bingung, aaaaaaarghhhh .. pusing liat angka-angka. Kecuali angka yang nunjukin nominal uang ya :P

Kadang, saya minta diajarin ama temen sekamar which is anak IPA, tapi tetep aja otak ga bisa terima. Rasanya males banged kalo udah ada pelajaran matematika. Bawaannya pengen ngabur dari kelas, pura-pura sakit n meringkuk dikamar, ato ijin dari jam pelajaran dengan beribu-ribu alasan mwauhihihihi ...

Dan puncaknya pas menjelang ujian akhir sekolah, dimana matematika itu jadi salah satu pelajaran wajib yang diujikan. Beberapa hari sebelom tes matematika ini, I was feeling soo damn horrible n nervous. Mo belajar, apa yang dipelajarin coz bingung n ga paham :D tapi mo ga belajar juga gimana mo ngerjain soal, masa salah semua .. kind of dilema, hasyahhh ...

Lalu saya curhat sama Ustadz yang udah deket banged [rest in peace Uzt.Wisnu], n setelah ngobrol panjang lebar lalu kami punya penyelesaian yang somewhat gila but it worked well, damn hahaha .. Jadi begini. Pas ujian, kami para murid akan mengerjakan soal yang jumlahnya 50. Estimasinya, dengan soal multiple choice which is A sampai E, jadinya tiap jawaban nantinya akan mendapatkan porsi jawaban benar yang sama yaitu 10 soal. Yang jawabannya A ada 10 soal, jawabannya B 10 soal dan seterusnya. Bisa ditebak kan mwuhihihihi ..

And well, hari dimana tes matematika dimulai, saya membulatkan tekad. Ahhh okayyyy.. saya ga mau memaksa otak saya yang udah empet sama matematika. So, saya praktekkan hasil obrolan sama Ustadz. Di ruang ujian, I did nothing selain mbulet-mbuletin jawaban, dan yang saya buletin itu semuanya yang bertanda hurufffff .... D!! Bennaarrr, jadi dari nomor 1-50 jawaban saya D semua *nekattt gila. Sampe-sampe pas ada pengawas mendekat saya brusaha keras nutupin lembar jawaban n pura-pura sibuk mikirin rumus hahahha... sumpaahhh, that was soo embarassing.

Hasilnya, dari beberapa mata pelajaran, nilai-nilai itu berderet dari mulai 9, 8, 8, laluuuu jegleggg .. 2! untuk matematika wmauahhahaha .. aawhhh math, U killed Me, wallahi!! Dan itulah terakhir kali saya mengerjakan soal matematika. Appaaa??? mengerjakan?? edit .. maksudnya melihat soal matematika :P


Saturday, February 05, 2011

Saya dan cerita tentang Kampus ITM-Giza


1.
Di Mesir, saya ngga belajar di Al-Azhar univ seperti ribuan mahasiswa lain dari Indonesia. Saya belajar di sebuah college yang terletak cukup jauh dari pemukiman orang Asia. College saya terletak hanya beberapa puluh meter dari Pyramid, tepatnya didaerah Kerdasa-Giza. Kerdasa adalah tempat yang terkenal dengan kerajinan berbagai macam karpet, woven fabric dan konveksi khas tradisional Mesir dari mulai galabeya sampai kostum tari perut.

2.
Saya menjadi satu-satunya mahasiswi dari Asia yang belajar di college ini. Mahasiswa asing lain ada beberapa orang, berasal dari Jerman, Jordania, Turkey, Nigeria dan Prancis, tetapi mereka semua mempunyai darah Mesir dan rata-rata memiliki dual-citizenship. Karna college ini adalah private school n somewhat berada dibawah naungan kedutaan Prancis, setiap tahunnya saya selalu mendapatkan kendala soal ijin tinggal/visa. Jadi, selama beberapa tahun di Mesir saya belom pernah memiliki visa karna selalu gagal mengurus dan pernah setahun setengah hanya memiliki visa turis.

3.
Menuju college di bulan-bulan pertama adalah perjuangan buat saya, terutama ketika musim dingin. Saya harus berangkat sejak jam 7 pagi dari Nasr City tempat saya tinggal, lalu naik Bus CTA jurusan Giza selama kurang lebih 2 jam karna selalu terkena macet di jalan-jalan protokol. Dari CTA, saya menaiki angkota kecil yang disebut el-tramco menuju Kerdasa, dan biasanya tepat sampai sana beberapa menit sebelum kelas dimulai pukul 09.30. Kelas selesai pukul 05.00 pm dan perjalanan menuju Nasr City dari Giza kembali menempuh waktu 2 jam bahkan lebih. Dan biasanya saya lebih memilih naik subway [kereta bawah tanah] untuk perjalanan pulang ketimbang CTA.

4.
Berada di dalam el-tramco atapun di jalan-jalan di area sekolah saya, Kerdasa adalah hal yang sangat tidak mengenakkan pada awalnya. Karna di area itu bukan tempat warga asing tinggal, ataupun tempat turis berjalan-jalan. So, saya dengan bentuk, raut muka dan cara berpakaian yang sangat berbeda dengan mereka hampir setiap hari menjadi tatapan orang, dilihat sambil berbisik-bisik, bahkan terkadang dipelototi dengan heran seolah-olah saya adalah alien yang baru saja turun dari UFO. Kadang ada yang bertanya, Yabani?? Sinni?? dan saya menggeleng-geleng sambil menjawab Ana Indonisi. Dan mereka biasanya menjawab, ahhaa Indonisiiy .. ahlan naas .. *gombaaaaaaal

5.
Karna jam sekolah yang padat dan lamanya perjalanan, juga tugas-tugas yang menumpuk, dalam beberapa waktu saya sangat jarang mengikuti kegiatan yang diadakan mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Saya juga terkondisikan menjadi anti-sosial dan tidak banyak mengenal mahasiswa lain dari Indonesia karna lebih sering berada di college dan pergi mencari bahan tugas keluar. Kegiatan yang saya ikuti saat itu hanya acara-acara besar yang diadakan oleh NU dan kekeluargaan saya, Jawa Tengah.

6.
Tiga bulan pertama masuk college, saya sempat merasa stress, ga betah dan hampir menangis setiap malam karna kesulitan komunikasi, adaptasi dan harus mendengarkan lagu-lagu arab yang mengalun setiap saat. Sebagai satu-satunya mahasiswi yang tidak berdarah Mesir, saya selalu dikerjain teman-teman karna mereka tidak mau diajak berbicara kecuali dengan bahasa arab gaul which is kedengeran seperti lebah mendengung dan tak satupun ucapan mereka bisa saya mengerti, kecuali sepatah dua patah. Bahasa inggris hanya mereka gunakan saat jam belajar bersama dosen. Tapi keuntungan dari semua ini, hanya dalam beberapa bulan saya akhirnya 'mahir' marah-marah sama orang Mesir dan menawar barang dengan kejam mwuahhahaha..

7.
Sebagai orang Mesir dan masih muda, teman-teman saya mempunyai ciri khas yaitu sangat enerjik, dinamis, cenderung bersuara keras, sangat suka berdandan, memakai aksesoris, menyanyi dan bergoyang, senang bercanda, gampang marah dan suka bersosialisasi. Karna dikelas kami berjumlah ga lebih dari 10 orang, kami menjadi cepat akrab dan dekat satu sama lain. Satu hal yang sering mereka tanyakan adalah, kenapa mata saya sipit sekali??? mwuhahahaha ... mereka selalu berpikir saya lebih mirip orang Vietnam ketimbang orang Indonesia. Dan beberapa diantara mereka juga lebih mengenal Bali daripada Indonesia.

8.
Di college, kepala sekolah yang sekaligus pemilik adalah seorang kebangsaan Lebanon bernama Houdroj, yang berbicara campur-campur antara bahasa arab, inggris dan prancis jadi selalu saja pembicaraan ga nyambung dan susah dimengerti, terutama ketika saya membicarakan soal ijin tinggal. Dia berwajah dan berpenampilan seperti Karl Lagerfeld si perancang channel. Ga ada yang suka mr.Lagerfeld ini karna dia selalu mengumpat dan marah-marah ketika mendapati murid-murid sedang makan didalam kelas dan membiarkan AC menyala pada jam-jam istirahat.

9.
Salah seorang teman baik saya bernama Asmaa berasal dari kota Elminya, kota yang dulu saya sering salah membedakan dengan Almaniya which is beda jauh karna Almaniya adalah bahasa arab untuk menyebut negara Jerman :D sedangkan Elminya adalah salah satu kota kecil di Egypt. Setiap pulang dari liburan, Asmaa selalu membawa makanan lezat dari kampungnya berupa makhshi, yaitu kubis kukus gulung yang berisi nasi yang telah dibumbui berbagai macam rempah-rempah khas Mesir. Saya selalu tergila-gila dengan makhshi bikinan keluarga Asmaa. Biasanya dia selalu membawa satu baki penuh berisi mahkshi dan beberapa iris daging, lalu kemudian dimakan rame-rame didalam kelas. Biasanya 'makhshi party' akan berhenti setelah mr.Lagerfeld mulai berjalan dan menampakkan muka merah padam.

10.
Di kelas, sambil mengerjakan tugas kami boleh mendengarkan musik. Dan telinga saya sampai kenyang karna tiap hari musti dengerin lagu-lagu arab yang sangat saya benci, dari yang slow, mendayu-dayu ala dangdut bahkan rap. Saya juga sampai hapal lagu-lagu hit terbaru beserta nama-nama penyanyinya. Entah mungkin karna kualat, sampe di-flat pun akhirnya saya kadang sibuk mendonlod lagu-lagu arab dan jadi suka dengerin siaran radio Nogoom atau Mazika FM. Saat itu, saya benar-benar sudah Mesir banged. And well, penyanyi Mesir yang saya sukai adalah Mohammed Mounir, seorang suku Nubian. Lagunya yang terkenal adalah Madat ya Rasulullah. Penyanyi lain yang terkenal di Mesir saat itu adalah Tamer Hosny, Amr Diab, Shirin, Elissa dll.

11.
Karna jam sekolah kami yang padat dari jam 09.30 am sampai jam 05.00 pm, biasanya pas jam-jam istirahat kami pesan delivery makanan. Dan biasanya salah satu murid mulai sibuk mendata pesanan beberapa menit sebelum jam istirahat. Seringnya, kami memesan dari Mc Donalds, Shabrawy, Felfella dan Mashrawy. Dan pastinya pesanan ga jauh-jauh dari jenis burger n falafel which is sangat membosankan dimata saya. Pernah selama beberapa hari saya hanya memesan kentang dan milkshake saja, dan mereka semua terheran-heran karna bagi mereka kentang n milkshake hanya makanan 'sampingan'. Dan biasanya saya selalu bilang bahwa burger atau falafel juga ga akan membuat saya puas karna saya butuh makan nasi :D

12.
Setiap ada yang merayakan ulang tahun, kami beserta anak-anak dari kelas laen rame-rame iuran untuk membeli cake dan dimakan bersama-sama pada jam istirahat. Kadang-kadang juga family mereka datang membawa banyak makanan dan kue2 manis [halaweyat] lalu dibagi-bagi keseluruh murid. Saya selalu suka momen-momen seperti ini karna bisa puas makan makanan Mesir bikinan rumahan whihwihwihwi...

13.
Saat ga terburu-buru dan ga telad bangun, biasanya saya selalu bawa bekal sendiri. and yeah, seringnya saya membawa nasi goreng yang dicampur telur dan sosis. Tapi lambat laun, bekal saya diminati temen-temen yang penasaran gimana bentuk nasi goreng itu, dan seringkali I end up ga kebagian bekal sendiri karna habis dicicipin sama mereka. Bahkan, besok-besoknya salah seorang dosen dan teman saya memesan pengen dibuatkan seporsi nasi goreng :D Saya juga sering membawa bekal brownies ke college lalu saya bagikan ke teman-teman. They looove me and called me little angel hahahah..

14.
Seperti tabiat orang Mesir pada umumnya, teman-teman saya gampang marah, tapi juga gampang lupa. They're kind of 'letting go' people. Pernah suatu hari, saya berdebat dengan Hesham n Asmaa soal tugas sekolah hingga kami saling marah n melemparkan muka masam. Besoknya, kami bertemu di sekolah dan mereka menyapa 'Bonjour ya Maaya' dengan ketawa-ketawa .. seolah ga terjadi apa-apa. Sedangkan hari itu hati saya masih mendongkol dengan perdebatan kemaren. Dan ketika saya meminta maaf, mereka hanya tertawa dan malah bingung kenapa minta maaf n dibahas lagi :D .. well, beda budaya, beda negara, beda perasaan kali ya, pikir saya ... selanjutnya, saya menjadi terbiasa.

15.
Dan sekarang, saya masih berhubungan baik dengan teman-teman melalui facebook. Thank God I found them. Mereka semua telah berkarya sendiri-sendiri. Hesham menjadi pengajar di tempat sekolah kami dulu, Reem menjadi freelance desainer dan berencana meneruskan studi keluar Mesir, Nahla, Asmaa dan Iman telah menikah lalu merintis usaha dengan membuka atelier, Mai menjadi seorang freelance model, Ashraf mengikuti wajib militer, Norhan bekerja di perusahaan oil service, dan Nora terbang kembali ke Berlin, lalu mengikuti suaminya ke NYC. Dan saya, disini ..menjadi pedagang, juga tukang kue, dan pengajar yang mencintai anak-anak mwuhahiehiehihe...

Berharap suatu hari, saya bisa kembali kesana, bertemu dengan teman-teman saya dulu, mengunjungi college tempat saya belajar, dan terutama ... mengunjungi azbakeyya tempat saya mencari buku-buku dan majalah bekas, mengelilingi segala sudut kota Kairo, melewati kembali jembatan Qasr el-Nile dengan CTA, menaiki felucca mengelilingi sungai Nil di Aswan, dan melihat sunset yang tenggelam disela-sela piramyds, seperti yang selalu saya lihat setiap sore, sepulang dari college .. wonderful!!

Di Mesir, dan juga di college, saya mendapatkan pengalaman yang tak akan pernah terlupakan. Pengalaman dan berbagai ilmu yang tak pernah cukup didapat hanya dari bangku kuliah, diktat pelajaran, dan segala sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang. Sebuah kisah dari perjalanan hidup yang sangat berharga bagi saya.

ahh Mesir, await my return .. !