At bottom every man knows well enough that he/she is a unique being, only once on this earth -Nietzsche-

Thursday, February 09, 2006

Asian Fusion Di Nasr City

Tak khawatir!!!! Begitu kira-kira perasaan saya, atau bahkan bagi sebagian besar mahasiswa dari berbagai negara di Asia ketika muncul kerinduan untuk menyantap hidangan khas Negara masing-masing. Mulai dari tom yam, laksa, masakan padang, bakso, pempek hingga nasi pecel dan masakan-masakan yang bercitarasa homemade alias masakan ibu sangat mudah didapat.

Adalah Nasr city, tempat dimana sebagian besar mahasiswa asing baik dari Asia maupun afrika tinggal untuk menempuh study di Al-Azhar University dan beberapa kampus lain. Bahkan pada suatu hari, teman sekampus saya yang berkebangsaan Mesir di Institut Technique De La Mode berkelakar bahwa di Nasr city, jumlah penduduk asing lebih banyak daripada orang pribumi Mesir sendiri. Yah, that's probably right" kata saya.

Tak heran jika setiap tahun selalu saja ada warung-warung Asia bermunculan di area Nasr ini. Sebut saja Palas, Nile Restaurant, Sri Kelantan, Sabi', Sabang, Sarinah sampai Ibrena. Meski ada beberapa yang menyajikan menu dengan nama yang sama, but every place has different taste. Contohnya restoran Sri Kelantan yang menyajikan masakan-masakan melayu, namun menyediakan menu Tom Yam yang berasal dari Thailand. Bahkan warung Sabang yang seharusnya spesifik dengan masakan-masakan Aceh dan Sumatra, juga menyediakan menu-menu yang sama persis seperti di Kelantan maupun di Sabi' dan Nile Restaurant.

Ada beberapa warung makan yang lumayan sering saya kunjungi, yaitu Sri Kelantan, Sabi' Restaurant dan warung tanpa nama milik Bu Tatik yang bercitarasa jawa dan berkonsep home cooking. Menu-menu yang tersedia di Sri Kelantan, Nile dan Sabi' tak jauh berbeda, bahkan bias dikatakan sama. Namun seperti yang sudah saya tulis diatas, nama boleh sama, tapi rasanya man, bener-bener beda!!!! Ada menu Tom Yam yang selalu nomor satu di Sabi' restaurant. Entah karna pemiliknya mungkin asli orang Thai, yang jelas Tom Yam-nya -meski dihidangkan dalam small portion- sangat spicy dan tastefull. Meski Tom Yam Goong dalam versi aslinya menggunakan udang, sang pemilik menyesuaikannya dengan kantong mahasiswa dan menggantinya dengan ayam atau daging. Kalaupun mereka menyediakan menu Tom Yam udang (Tom Yam Goong) ataupun sotong (cumi-cumi), pastinya dengan harga yang relatif mahal. Dengan bumbu yang lengkap termasuk serai dan daun jeruk, sup ini terasa segar dan paling cocok dimakan saat musim dingin. Ada juga menu ayam dan daging merah, yang dimasak dengan bumbu sederhana seperti bawang merah, bawang putih, merica serta daun ketumbar (cilantro) yang membuat aroma dan rasanya sangat nikmat.

Lain lagi di Sri Kelantan yang kini telah mempunyai cabang di kawasan Gate III. Disini, Tom Yam dihidangkan dalam porsi yang genorous namun citarasanya sangatlah biasa, bahkan kadang-kadang hanya menyisakan rasa asam jeruk nipis dan pedas cabai bubuk. But, not bad to try lah....

Menu favorit sebagian pengunjung adalah nasi Mutiara, yang sepertinya merupakan mixture antara masakan Melayu dan India. Nasinya berwarna kuning kunyit yang digoreng bersama wortel dan polong, lalu diberi topping berupa ayam yang dimasak dengan ketumbar dan bumbu kari. Nasi Mutiara ini juga termasuk hidangan favorit orang-orang Afrika dan Asia Tengah (Kazakh, Usbekiztan dll). Entah kenapa, mungkin hanya menu ini yang cocok menurut lidah mereka.

Menu lain yang juga worth to try di Sri Kelantan lumayan banyak, seperti Mee Hongkong, Nasi goreng ikan mahsin, Kwetiaw goreng serta minumannya seperti ais sirap jagung dan teh tarik.

Singgah ke warung bu Tatik, seperti laiknya masuk warung tegal. Disini kita bisa self service, alias mengambil sendiri menu yang kita inginkan (Buffet), memakannya lalu membayar. Hidangan yang ada cukup variatif seperti lodeh, sambal goreng, cap jay, oseng-oseng tempe juga perkedel. Disini juga menyediakan menu bakso yang menurut saya cukup enak, dan ada juga pempek. Namun untuk pempek, saya memberikan nilai 5 out of ten. Ikannya kurang terasa dan kuahnya kurang berbumbu. Biasanya saya "lari" ke warung Basmalah milik orang palembang kalau ingin makan pempek. Cukup pempek saja, karna di warung Basmalah ini rata-rata tak ada menu lain yang menarik untuk direkomendasikan.

By : Mae
I'm Not A Chef, nOt yEt a GouRmeT
Hanya Pecinta KuLiner.

No comments: