At bottom every man knows well enough that he/she is a unique being, only once on this earth -Nietzsche-

Sunday, May 28, 2006

Mae co[O]king Dilemma

Musim-musim ujian di kairo, selalu saja penyakit yang satu ini datang melanda. Ya, apalagi kalau bukan malas menginjak dapur alias memasak. Idealisnya, sayang donk kalau harus wasting time buat nyiapin masakan sedangkan waktu untuk belajar semakin berkurang. Pengennya......makanan tersedia saat kita sedang asik berkutat dengan diktat atau bisa makan enak tanpa repot-repot memasak ini dan itu.

Biasanya, warung dan resto-resto Asia memang ramai oleh kalangan mahasiswa selama masa-masa ujian. Dan bagi mahasiswa yang beruang (wehh..maksudnya punya finansial yang cukup) tentu bukan menjadi problem yang besar. Saat lapar mulai memanggil, cukup lari ke resto terdekat dan membeli beberapa lauk atau memakannya di tempat. Mahal sedikit, yang penting perut kenyang, gizi terpenuhi dan tak usah sibuk belanja or memasak, hehehehe.

Lain cerita untuk mahasiswa yang berkantung cekak, atau minimal menggantungkan hidupnya dari uang minhah (beasiswa) dan tidak berkesempatan menempati asrama. Pengen jajan di resto asia, uang tak mencukupi. Kalau tiap hari menunya makanan Mesir -yang harganya relatif murah- tentunya bosan. Paling-paling, hanya Indomie dan telor mata sapi yang setia menemani [pssttt harga telor di Mesir padahal mulai mahal juga, hikss]. Numpang makan ke rumah temen?? wikss kalau sering-sering malu dunk. Puasa?? weitt...masa niat puasa gara-gara tak punya uang, heheheh.

Di kalangan mahasiswi, kadang -bahkan sering- masalah masak-memasak selama ujian memang jadi dilema. Biasanya, di tiap-tiap flat yang ditempati sekitar 4 sampai 6 mahasiswi mempunyai jadwal memasak yang rutin dijalankan tiap hari. Dan saat-saat ujian menjelang, rasa malas untuk memasak -disamping demi efisiensi waktu- mulai datang melanda. Pada akhirnya, peraturan untuk cooking by ourself-pun mulai dijalankan. Ada yang memilih beli di warung-warung asia terdekat, ditambah suplemen seperti snack dan berbagai minuman atau susu. Ada pula yang memilih belanja bahan-bahan instan seperti Indomie, makanan kaleng dan telur yang praktis dan simpel. Yang lebih kreatif, ada beberapa yang memilih membuat masakan tahan lama seperti kering tempe atau abon untuk persediaan selama ujian. Namun, banyak pula para mahasiswa dan mahasiswi yang tetap memilih belanja dan memasak seperti hari-hari biasanya, hanya memilih masakan yang lebih sederhana dan enak dimakan tentunya.

Hmmphh.....kalau aku sendiri, memang masa-masa ujian tak sesulit seperti teman-teman yang belajar di al-Azhar Univ, yang harus berkutat dan menghapal diktat kuliah serta al-Quran. Tetapi, tetap saja saat-saat ujian menjelang, ketika banyak assignment yang harus diselesaikan dan persiapan pameran yang waktunya sudah dekat, rasanya begitu enggan untuk sekedar beraktifitas di dapur. Sepertinya makan di warung-warung entah itu makanan asia atau mesir terasa lebih nikmat meskipun sebenarnya memiliki rasa yang biasa-biasa saja. Untuk sekedar minum air-pun, rasanya lebih praktis membeli air mineral dalam botol. Tiba-tiba, dapur yang sebelumnya merupakan the most fave place menjadi sebuah ruangan yang paling tak ingin aku sentuh. Memasak yang termasuk hobi nomor satu menjadi momok buat aku.

omiGod.......everyThiNg has GonE wRoNg!!!! Izz Dizz Ze ExaM eFfects??

1 comment:

rabwaku said...

Apalagi kl ibu-ibu yang lagi ujian...:-) kaya aku ini :-)