At bottom every man knows well enough that he/she is a unique being, only once on this earth -Nietzsche-

Sunday, April 16, 2006

ODE from a friend

A friend gave me these words and I hope he won't be angry to see his messages be displayed here, in my blogg. I just wanna say a little words for him that in our life, It takes a great dream to make a great work.

Never Give Up!

ODE LIMA RATUS KATA UNTUK MAYA
: semacam rangkuman kesan

"Take care ya,"
"Waduh. Jangan take care dong. Jadi teringat akan seseorang."
"Halah. Kamu itu terlalu banyak menyimpan memori."

Terlalu banyak menyimpan memori. Kalimat ini akan sangat menarik untuk dielaborasi lebih dalam. Ketika setengah abad yang lalu Franz Kafka bilang, hidup adalah perjuangan melawan lupa. Meski kalimat itu muncul sebagai bentuk peringatan untuk tidak melupakan masa lalu-yang kata Bung Karno: Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah- namun tak ada salahnya untuk membaca teks itu dari berbagai sudut pandang. Taruhlah dalam kasus aku, frase take care menjadi begitu berarti sebab kalimat itulah yang senantiasa keluar ketika kami –aku dan
dia- berpisah. Iya, hanya dua kata. Tapi karena pengucap kalimat itu seseorang yang menempati ruang tersendiri dalam hati, semestinya pula aksara memberi arti lebih. Disini, ungkapan "lihatlah apa yang terucap, bukan siapa yang berucap" tak lagi berlaku. Dan sepertinya kita –ya, aku dan kamu- bisa bersepakat untuk itu. Bahwa dalam kondisi tertentu, siapa yang berucap lebih diperhatikan dari apa yang terucap.

Mungkin benar, aku terlalu banyak menjaga ingatan. Bahkan untuk sesuatu yang remeh. Seperti frase take care tadi. Apakah aku merasa itu sebagai suatu kesalahan? Sampai saat ini aku masih
menjawab: tidak. Salah satu alasan pembenaran sikap itu ialah: aku tak memiliki apa-apa selain kenangan. Untukku, kenangan yang senantiasa terjaga akan menjelma mata air. Dari tempat itu telah lahir beberapa lagu, berpuluh puisi, juga berbilang narasi. Lalu dosa apa yang dilakukan ingatan sehingga aku harus menimbun mata air itu dengan berton-ton batu dan pasir, sehingga tak ada lagi ruang gerak untuk air? Dosa apa? Sementara kita –aku, kamu, juga mereka- sedikit banyak turut menikmati apa yang mengalir dari sana.

Aku masih ingat betul apa yang diucapkan seseorang yang sangat kita kenal. Ketika ia bilang,
seandainya kamu pacaran dengan Nanang maka betapa banyak lagu yang tercipta. Syahdu sekali ucapannya itu. Sungguh, aku terharu. Tapi andai tetaplah andai. Kita tak pacaran dan aku tak pernah menulis lagu untukmu. Pertanyaannya, mengapa? Kalaupun bukan engkau, apakah tidak ada orang lain?

Semoga engkau percaya dengan apa yang kurasa. Bahwa aku, lahir dari sunyi dan akan pulang menuju sepi. Jika hanya untuk having fun-sebagaimana kebanyakan manusia disekitar kita- maka akan ada berderet-deret nama yang tak cukup ditulis dalam lembar kertas A4. Sementara aku mencari sesuatu yang lain. Sesuatu (atau seseorang?) yang tidak hanya membuatku berharga namun juga bisa membuatku terjaga. Ok, anggaplah aku sedang bermimpi. Aku tak akan membela diri saat ini. Bagaimanapun -selain kenangan- mimpi adalah alasan penting
untuk bertahan. Meski terlalu tinggi hingga mencucuk langit mendepak bumi, tak ada salahnya
aku terus menjaga mimpi. Aku tahu akan arti konsekuensi. Semakin tinggi mimpi, semakin besar resiko untuk jatuh dan tentu saja, semakin bertambah pula rasa sakit. Yah, bagaimanapun selalu saja ada harga yang harus dibayar untuk sebuah keputusan. Dan aku berusaha menabung agar kelak ketika benar-benar jatuh, aku punya cukup daya untuk membayarnya. Meski tak tunai. Meski harus berhutang kanan-kiri.

Satu hal penting yang aku curi dari Pramoedya AT: "Suatu saat dalam hidup, kita musti menentukan sikap. Jika tidak, kita tak bakal menjadi apa-apa."


Salam,
Nanang M.Shabara

1 comment:

Anonymous said...

Konyol juga, akhirnya hari ini aku mempertanyakan hal sepele ini pada si penulis. Tentang siempunya kata "takecare". Iya, kata "takecare" itu dulu memang biasa kuberikan padanya. Dan terhenti saat aku membaca tulisan ini sejak bulan April 2006.

Dan rasanya konyol setelah aku tahu siapa si empunya kata "takecare" itu.

Iya. Kadang hal sepele itu perlu agar bisa jadi manusia lagi seperti kata kawanku. Kalau semua orang cara berpikirnya seperti aku, mungkin acara 4-mata si Tukul jadi ora payu. Hahhhahahaha.

Takecare, Nang.